April, 2026
Sangga Stories
Pelestarian Pengetahuan Masyarakat Adat
Tradisi Budaya Dayak sebagai Fondasi Konservasi di Bentarum
Lanskap Bentarum sebagian besar terdiri atas hutan adat yang dikelola oleh masyarakat adat Dayak. Di sini, penggunaan lahan dipandu oleh nilai-nilai budaya yang mengakar kuat, tradisi lisan, dan sistem pengetahuan berbasis tempat. Oleh karena itu, pendekatan konservasi kami di Bentarum memprioritaskan penyelarasan strategi ekologis dengan sistem kepercayaan lokal yang membentuk cara masyarakat berinteraksi dengan lingkungan mereka.
Tradisi budaya Dayak memainkan peran sentral dalam mengatur kehidupan sehari-hari di Bentarum. Sebagian besar pengetahuan ini diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan sangat terkait dengan tempat serta lanskap tertentu. Praktik budaya bersifat sangat lokal, dan generalisasi dari wilayah lain sering kali tidak dapat diterapkan.
Namun, sistem pengetahuan ini semakin terancam. Dokumentasi budaya di Bentarum masih terbatas, dengan sebagian besar pengetahuan dipegang oleh para tetua adat. Pada saat yang sama, banyak tetua adat menyampaikan kekhawatiran bahwa tradisi lisan secara perlahan mulai hilang.
Sangga Bumi Lestari telah bekerja sama dengan masyarakat untuk mendokumentasikan narasi budaya yang membentuk hubungan antara manusia, satwa liar, dan lanskap. Narasi-narasi ini mencerminkan pengetahuan antargenerasi dan praktik adat yang memengaruhi bagaimana spesies dan kawasan tertentu dipersepsikan dan dikelola.

Hingga saat ini, kegiatan dokumentasi telah dilakukan di tujuh desa di lanskap Bentarum: Sungai Ajung, Menua Sadap, Sepandan, Pulau Manak, Labian, Benua Martinus, Benua Tanga, dan Sungai Uluk Palin, dengan melibatkan sedikitnya 31 anggota masyarakat dan para tetua adat.
Upaya ini didorong oleh dua pertimbangan utama:
- Inisiatif konservasi akan lebih efektif apabila tidak hanya mempertimbangkan faktor ekonomi, tetapi juga faktor budaya yang memengaruhi perilaku dan pengambilan keputusan.
- Terdapat kebutuhan mendesak untuk melestarikan pengetahuan lisan sebelum hilang.
Temuan awal menunjukkan bahwa narasi terkait keanekaragaman hayati, khususnya yang berkaitan dengan satwa liar, secara umum dapat dikelompokkan ke dalam dua tema utama: cerita yang melibatkan interpretasi simbolik atau mistis, dan cerita tentang satwa nyata yang memiliki makna budaya lintas generasi. Narasi-narasi ini juga dapat dikategorikan berdasarkan cara penyebarannya: beberapa bersifat spesifik pada kelompok budaya tertentu, sementara yang lain terkait dengan lokasi tertentu dan dikenal luas di berbagai komunitas tanpa memandang latar belakang budaya.
Beberapa wawasan terpilih dari pekerjaan ini akan dibagikan melalui platform digital yang dapat diakses publik yang saat ini sedang dikembangkan.