Maret, 2026
Mengembangkan Koridor Hutan Multipihak
Tantangan
Meskipun sering disebut sebagai Koridor Bentarum atau Koridor Labian-Laboyan sesuai nama dua sungainya, konektivitas hutan di Bentarum telah berkurang akibat keberadaan jalan yang membentang dari timur ke barat di bagian tengah kawasan dan menghubungkan Putussibau dengan Sarawak. Perluasan lahan pertanian, konsesi kelapa sawit, permukiman, dan bangunan usaha semakin memperburuk fragmentasi hutan.
Solusi
Kami mempertemukan para pemangku kepentingan utama di lanskap ini untuk membentuk koridor yang memperkuat konektivitas hutan dan menyediakan jalur aman bagi satwa liar di berbagai tipe penggunaan lahan.
Perkembangan
Sangga Bumi sedang mengamankan koridor seluas 107.765 hektare yang membentang dari Danau Sentarum di selatan hingga Betung Kerihun di utara.
Koridor ini mencakup beberapa wilayah utama:
Terdapat anggapan bahwa koridor hutan harus mempertahankan tutupan hutan yang utuh tanpa gangguan. Namun, kami mengutamakan pendekatan yang lebih pragmatis, yaitu memperkuat konektivitas di berbagai tipe habitat dan penggunaan lahan sambil tetap mendukung pembangunan berkelanjutan serta memastikan satwa liar dapat bergerak aman di lanskap yang telah dipengaruhi aktivitas manusia.
Melalui rencana pengelolaan Hutan Adat dan Hutan Desa, kami memperjelas tata kelola kawasan lindung. Melalui penyusunan tata ruang desa, kawasan lindung dapat diintegrasikan dengan wilayah pertanian dan agroforestri masyarakat. Pendekatan Sangga Farming juga diterapkan untuk membantu petani menentukan kawasan yang layak atau tidak layak untuk perluasan pertanian serta memberikan pelatihan untuk mencegah konflik dengan satwa liar. Selain itu, melalui kerja sama dengan pemegang konsesi, kami mendorong perlindungan kawasan penyangga hutan dan mempertahankan konektivitas antarhutan di dalam maupun di luar area konsesi.

Tim survei Sangga Bumi Lestari melakukan penilaian dampak roadkill
Tantangan Konektivitas dan Dampak Jalan di Bentarum
Tantangan terbesar bagi konektivitas koridor di Bentarum adalah jalan yang membentang dari timur ke barat melintasi kawasan tersebut. Pada periode 2024–2025, kami melakukan studi mengenai dampak jalan terhadap satwa liar. Ruas jalan yang melintasi koridor kami memiliki tingkat lalu lintas tertinggi, tetapi jumlah satwa yang mati tertabrak relatif lebih rendah dibandingkan ruas jalan lainnya. Meski demikian, tingkat kematian satwa tetap tinggi. Hampir 80% masyarakat pernah melihat bangkai satwa di jalan, yang umumnya berupa ular, ayam, tikus, anjing, dan burung. Mamalia besar tampaknya cenderung menghindari jalan tersebut. Tingkat keberadaan satwa masih tinggi pada jarak sekitar 2-4 kilometer dari jalan, tetapi menurun drastis pada jarak sekitar 50 meter dari jalan. Hal ini menunjukkan bahwa bagi mamalia besar, Bentarum pada dasarnya telah terpisah menjadi lanskap utara dan selatan dengan konektivitas populasi yang sangat terbatas.
Perburuan di Bentarum masih terlalu tinggi sehingga jembatan satwa liar belum menjadi solusi yang dapat diterapkan dalam waktu dekat. Namun, uji coba berbagai metode potensial untuk mengatur arus lalu lintas dan mengurangi tabrakan satwa, misalnya pita penggaduh (rumble strip) yang memberikan peringatan suara akan dilaksanakan antara tahun 2026 hingga 2028.