Maret, 2026
Education Centre: Pusat Pengetahuan bagi Masyarakat
Tantangan
Masyarakat Bentarum rentan terhadap perkembangan ekologis dan sosial yang berada di luar kendali mereka. Produktivitas pertanian rendah, dipengaruhi oleh buruknya kualitas tanah, perusakan tanaman oleh satwa liar, hama, dan penyakit. Peningkatan banjir semakin mengurangi aktivitas ekonomi. Perusahaan-perusahaan beroperasi di kawasan hutan adat, tetapi masyarakat desa sering kali tidak memahami regulasi yang menjadi dasar operasional perusahaan tersebut.
Solusi
Sebuah pusat singgah di lokasi yang mudah diakses, yang dapat berfungsi sebagai pusat pembelajaran dan tempat bagi masyarakat untuk mencari saran serta mendiskusikan permasalahan mereka.
Perkembangan
Kami telah mendirikan Education Centre di Desa Pulau Manak di pusat kawasan Bentarum. Sangga Hub berfungsi sebagai pusat pembelajaran dan demonstrasi, menyediakan ruang bagi solusi inovatif yang bertujuan memperkuat ketahanan pangan lokal dan pembangunan masyarakat untuk diuji coba.
Fasilitas utama yang dikembangkan di Education Centre meliputi:

Uji Coba Pakan Ayam Lokal
Peternakan ayam domestik di Bentarum mengalami penurunan akibat seringnya wabah penyakit Newcastle dan anggapan bahwa ayam membutuhkan pakan komersial mahal. Hal ini mengurangi ketahanan pangan dan memengaruhi tingkat perburuan satwa liar untuk konsumsi.
Kami telah membangun plot demonstrasi ayam kampung umbaran untuk menunjukkan bagaimana ayam domestik dapat dipelihara guna mengurangi risiko penyakit zoonosis dan meningkatkan kesejahteraan hewan. Plot ini juga digunakan untuk mengukur dampak penggunaan pakan komersial maupun pakan organik buatan lokal.
Per Maret 2026, sistem peternakan ayam lokal di plot demonstrasi telah menjadi lebih terstruktur, dengan total 55 ekor ayam yang ditempatkan di 4 kandang kecil dan 1 kandang besar. Pada tahap ini, diterapkan dua perlakuan pemberian pakan: kombinasi 50% pakan komersial dan 50% pakan alami, serta pendekatan pakan alami sepenuhnya, sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi biaya dan mendorong kemandirian pakan menggunakan sumber daya lokal. Produksi telur juga mulai menunjukkan hasil positif, dengan total 78 butir telur yang telah dihasilkan hingga saat ini. Sebagian telur tersebut juga digunakan untuk uji penetasan menggunakan inkubator, sebagai langkah awal menuju pengembangan sistem pembibitan mandiri di plot demonstrasi.
Pendekatan pengelolaan yang bertahap dan terstruktur ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjadi model pembelajaran praktis bagi petani dalam mengembangkan sistem peternakan ayam lokal yang lebih efisien, adaptif, dan berkelanjutan.

Uji Coba Kelapa Bido di Bentarum
Keterlibatan kami dengan Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal (IPLCs) menunjukkan meningkatnya minat dalam mengidentifikasi alternatif mata pencaharian berkelanjutan selain kelapa sawit. Berdasarkan pengalaman Sangga Bumi Lestari dalam mendukung mata pencaharian berbasis kelapa, kami sedang mengeksplorasi potensi budidaya kelapa sebagai pilihan yang layak. Konsultasi awal menunjukkan minat masyarakat yang kuat terhadap budidaya kelapa. Namun, akses terhadap dukungan teknis dan material masih terbatas.
Sebagai tanggapan, Sangga Bumi Lestari telah memperkenalkan varietas kelapa bido di lanskap Bentarum. Sebagai inisiatif percontohan, sepuluh pohon telah ditanam di pusat pendidikan kami, yang menjadi dasar pengembangan persemaian lokal. Persemaian ini ditujukan untuk menyediakan bibit bagi masyarakat sekitar.
Kelapa bido, varietas kelapa asal Maluku yang tumbuh lebih cepat dibandingkan kelapa tradisional (berbunga pada usia 2 tahun, panen pada usia 3 tahun) dan menghasilkan buah besar berkualitas unggul, menawarkan alternatif jangka panjang yang layak. Untuk mengatasi kurangnya pasokan lokal, perlu dibangun persemaian kelapa mandiri, dengan tujuan jangka panjang menjadi penyedia utama bibit kelapa di Mendawak dan kemudian di wilayah Kalimantan Barat yang lebih luas. Pemetaan spasial yang lebih kuat dapat membantu meningkatkan perencanaan jadwal penanaman dan membantu menciptakan usaha kelapa yang lebih konsisten.

Plot Demonstrasi Pertanian Regeneratif
Sebagai solusi terhadap rendahnya produktivitas pertanian yang teramati, kami telah membangun plot demonstrasi pertanian regeneratif. Sistem budidaya ini menunjukkan kombinasi polikultur seperti cabai–mentimun, cabai–kacang panjang, cabai–jagung, dan sistem terong lokal–kacang, bersama dengan berbagai plot monokultur.
The site features 11 plant species, including chili, cucumber, yardlong bean, corn, sour eggplant, mustard greens, local mustard greens, local cucumber, water spinach, beans, and soybeans. Various organic fertilizer treatments are tested, including bokashi compost and liquid organic fertilizer.
The plot also demonstrates the effectiveness of integrated pest management innovations, including using yellow traps, light traps, and refugia.

Persemaian
Persemaian telah dibangun untuk mendukung perluasan program pertanian regeneratif dan Tembawang kami. Persemaian ini pada akhirnya akan menjadi sumber bibit lokal bagi masyarakat Bentarum. Per November 2025, persemaian memiliki 5.328 bibit dari 23 spesies, termasuk pohon buah-buahan dan spesies RTE (Rare, Threatened, and Endangered).
Jenis bibit tersebut meliputi: Dryobalanops oblongifolia subsp. oblongifolia, Durio graveolens, Durio kutejensis, Upuna borneensis, Rubroshorea balangeran, Mangifera pajang, Eusideroxylon zwageri, Syzygium sp, Dacryodes rugosa, Dryobalanops lanceolata, Lansium domesticum, Garcinia cf. nitida, Pentaspadon motleyi, Nephelium sp, Palaquium sp1, Aquilaria malaccensis, Palaquium sp2, Nephelium mangiayi, Willughbeia angustifolia, Nephelium lappaceum, Artocarpus odoratissimus, Artocarpus integer, dan Garcinia mangostana.
Bibit-bibit tersebut dikumpulkan dari desa-desa sekitar melalui sistem anakan alami, dengan melibatkan masyarakat lokal dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati.

Hidroponik
Fasilitas hidroponik sederhana telah dibangun untuk mendukung penerapan pertanian tanpa tanah di daerah dengan kualitas tanah yang buruk. Sistem ini menggunakan Nutrient Film Technique (NFT) dengan kapasitas produksi sebanyak 216 lubang tanam. Saat ini sistem digunakan untuk membudidayakan selada, kangkung, pakcoy, dan sawi, yang merupakan sayuran yang umum dikonsumsi dan cocok untuk produksi berkelanjutan.