Pemantauan Lanskap Berbasis Teknologi
Tantangan
Rencana pengelolaan perhutanan sosial masih sering bergantung pada model konservasi tradisional yang mahal dan memerlukan banyak waktu. Meskipun Indonesia telah mengalami kemajuan teknologi yang pesat, termasuk dalam pemantauan berbasis citra satelit, sensor bioakustik, kamera jebak, dan drone, pendekatan konservasi masih banyak mengandalkan patroli lapangan yang memakan biaya besar.
Solusi
Kami memanfaatkan perkembangan jaringan komunikasi dan teknologi untuk memantau kawasan hutan menggunakan satelit, drone, sensor bioakustik, dan kamera jebak.
Perkembangan
Kami membentuk program magang STEM Futures untuk melatih pemuda Dayak di Bentarum dalam melakukan pemantauan teknologi terhadap kawasan hutan mereka. Bersama peserta magang, kami memantau perubahan penggunaan lahan setiap dua minggu menggunakan citra satelit Sentinel-2 dan PlanetScope. Pemantauan ini didukung oleh data Global Forest Watch Integrated Deforestation Alerts dan VIIRS Fire Alerts yang tersedia secara publik. Deforestasi yang teridentifikasi kemudian diverifikasi menggunakan drone, dan seluruh data perubahan penggunaan lahan disimpan dalam Avenza Maps. Pendekatan ini menghasilkan basis data yang terus diperbarui mengenai perubahan lahan akibat Pertanian, Penebangan hutan, Kebakaran, Perkebunan industri, dan Permukiman.
Kami juga menjalankan survei kamera jebak dua tahunan menggunakan 30 unit kamera untuk memantau populasi satwa liar. Survei pertama pada tahun 2025 menghasilkan data dasar keanekaragaman hayati, sedangkan survei berikutnya direncanakan pada tahun 2027. Di lokasi yang diidentifikasi sebagai titik rawan perburuan, kamera jebak dan sensor akustik dipasang untuk mendokumentasikan keberadaan satwa dan aktivitas manusia. Data tersebut kemudian digunakan sebagai dasar dialog dengan tokoh masyarakat guna mengurangi praktik eksploitasi satwa liar.
